Rabu, 13 Januari 2010

Banjir Bandang Landa Aek pahu,Enam Rumah Hanyut

9 Rumah Rusak Diterjang Arus

TAPSEL-METRO; Sembilan rumah semi permanen dihuni 18 kepala keluarga (kk) karyawan PTPN 3 Batang Toru rusak diterjang arus Aek Pahu, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) yang meluap Selasa (12/1) kemarin sekira pukul 16.00 WIB. Tiga rumah rusak parah dan enam rusak ringan.

Tidak ada korban jiwa dalam banjir tersebut, namun saat ini 18 KK sudah dievakuasi ke rumah perkebunan dan karyawan lainnya mengingat hujan masih mengguyur wilayah tersebut hingga Selasa (12/1) malam sekira pukul 20.30 WIB.

Informasi dihimpun METRO dari Camat Batang Toru, Ibnu Salam menjelaskan, akibat hujan deras Selasa sekira pukul 15.00 WIB, permukaan air naik dan meluap hingga kedalam sekitar 3-4 meter. Sembilan rumah semi permanen yang diterjang banjir tersebut terdapat sekitar 20 meter dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Aek Pahu.


18 KK yang menjadi korban banjir yaitu Poiman, Mujadi, Ngatino, Daniel, Tanjadi, Muji, Basailin, Tugimun, Feri Kurniawan, Marison, Edi Syahputra, Imron, Yunus Tanjung, Swandi, Pujiono, Agus Susatno, Rian, Soritua Situorang, dan Nasib. "Seluruh perumahan merupakan karyawan PTPN 3 Batang Toru, " ujar Camat.

Diungkapkan Camat, para korban sudah dievakuasi ke rumah karyawan dan perumahan PTPN dan jaraknya sekitar 1 kilometer dari Jalinsum Psp-Sibolga. Air sungai sudah mulai surut dengan ketinggian sekitar 1-2 meter hingga pukul 20.30 WIB.

Tiga rumah dikatakan ruska berat karena memang hancur total dan harus di bangun baru agar bisa ditempati, sedangkan 6 rumah ruska ringan, dengan perbaikan sedikit dan dibersihkan sudah bisa ditempati lagi.

Diungkapkannya, kejadian ini merupakan yang pertama kali yang terbesar meski tahun 2007 lalu sudah pernah, namun hanya menggenangi rumah warga dan tidak sampai merusak dan korban jiwa.

"Saat ini masyarakat sudah kita himbau untuk waspada di musim penghujan ini," tuturnya sembari mengatakan bencana alam tersebut sudah dilaporkan ke Bupati Tapsel. (phn)
Referensi: metrosiantar.com


Kamis, 17 Desember 2009

LONGSOR AYAH DAN DUA ANAK TEWAS

Batangtoru,
Sekeluarga dilaporkan tewas akibat longsor perbukitan di kampung Mandailing,kecamatan Batangtoru,kabupaten Tapanuli selatan (Tapsel)-16/12-.
Hujan lebat yang mengguyur daerah Tapanuli selatan (Tapsel) tadi malam mengakibatkan bukit di kampung tersebut menimpa rumah penduduk yang berada di lereng.Dalam musibah ini,ayah dan dua anaknya tewas tertimbun.Korban bernama IbrahimGea,28; dan Lisna gea,2; dan Lisna gea,10 bulan(anak).Sedangkan istri korban dalam kondisi kritis.
Kapolsek Batangtoru AKP JW Sijabat yang di hubungi tadi malam mengatakan,ketiga jenajah telah dievakuasi dari reruntuhan dan dibawa ke puskesmas Batangtoru.”Begitu hujan reda,kita(Polisi) bersama masyarakat setempat melakukan evakuasi dengan peralatan seadanya,”bebernya.
Longsoran lereng bukit itu berawal dari hujan lebat yang mengguyur daerah Batangtoru,sekitr 30 Kilometer diUtara kota Padangsidimpuan,mulai dari pukul 18.00-21.00 Wib,sehingga lereng perbukitan longsor terbawa air dan menimpa pemukiman korban.


Dari informasi di lapangan,kataJW Sijabat,posisi rumah korban berada persis di lereng bukit,sehinggah rumah yang dihuni korban menjadi sasaran.”Kebetulan saat hujan lebat semua korban seadang beristirahat di rumah,”ujarnya.
Begitu menerima laporan,Polsek Batangtoru bersama warga langsung turun ke lokasi melakukan evakuasi.Satu persatu korban berhasil di temukan,dan tiga di antaranya masing-masing seorang ayah dan dua anak ditemukan sudah tak bernyawa.Sedangkan seorang perempuan yang diduga istri korban masih dalam perawatan di Puskesmas Batangtoru yang bejarak 1 Kilometer dari lokasi.
Sementara itu dari situs resmi www.bmkg.go.id, sejak dua hari mulai tanggal 15 hinggah 16 Desember.Banyak lokasi yang masuk daerah rawan untuk bencana ini,salah satunya Sumatera utara.selain itu Sumatera bagian Tengah dan Selatan,pesisirBarat Sumatera bagian Sealatan dan Tengah,Pesisir Timur Sumatera bagian tengah,Jawa bagian Barat dan Selatan,Jabotabek,Kalimantan bagian Tengah dan Selatan,Maluku bagian Tengah dan Tenggara,NTB bagian Barat,NTT bagian Selatan dan Papua bagian Tengah ,Barat dan Sealatan.


Sumber Harian Seputar indonesia




Jumat, 11 Desember 2009

Konservasi Hutan Batang Toru Dilakukan Melalui Badan Pengelola

Kesepakatan Multipihak 3 Kabupaten
Konservasi Hutan Batang Toru
Dilakukan Melalui Badan Pengelola
• Diperkuat dengan SK Gubernur
Medan (4/12)
Setelah melalui proses dialog yang berlangasung alot, akhirnya para pihak yang berkepentingan dalam pemanfataan dan perlindungan Hutan Batang Toru menyepakati agar pengelolaan kolaboratif Hutan Batang Toru Blok Barat (HBTBB) dilakukan melalui kelembagaan Badan Pengelola (BP) yang pembentukannnya ditetapkan melalui surat keputusan (SK) dari pemerintah.
Kesepakatan itu dicapai dalam Lokakarya Pemilihan Bentuk Kelembagaan Kolaboratif yang difasilittasi oleh Orangutan Conservation Service Program (OCSP) di Sibolangit, 2-3 Desember 2009. Lokakarya ini dihadiri oleh perwakilan dari lembaga adat, LSM, tokoh masyarakat, perusahaan pemegang izin konsesi lahan, dan unsur pemerintah daerah (dinas kehutanan dan dinas lingkungan hidup) dari tiga kabupaten yang wilayahnya meliputi kawasan HBTBB, yakni Kabupaten Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah dan Tapanuli Utara.


Sejalan dengan terpilihnya bentuk kelembagaan kolaboratif HBTBB, peserta juga membentuk Tim Inisiator yang diketuai oleh Djati Witjaksono Hadi (Kepala BBKSDA Sumut), dengan tugas inti mensosialisasikan konsep kelembagaan Badan Pengelola HBTBB kepada lembaga-lembaga terkait, menegosiasikan upaya pembentukan kelembagaan BP HBTBB kepada banyak pihak, dan mengorganisasikan lokakarya pembentukan struktur dan pengurus BP HBTBB
Sebelumnya, peserta mendiskusikan tiga opsi bentuk kelembagaan, antara lain berbentuk yayasan/perkumpulan tanpa SK pemerintah, bentuk yayasan/perlumpulan dengan SK dari pemerintah, atau badan pengelola yang pembentukannya ditetapkan melalui SK dari pemerintah, terutama SK Gubernur Sumatera Utara (Gubsu). Opsi terakhir menjadi pilihan ideal karena lebih terbuka, fleksibel, adaptif dan akuntabel. Pembentukan BP HBTBB dengan pelibatan masyarakat dan penetapan dengan SK Gubsu akan membuat lembaga kolaboratif ini mendapat legitimasi dan dukungan politik yang kuat.
Wakil Ketua Tim Inisiator Pembentukan BP HBTBB, Erwin Alamsyah Siregar, mengatakan lingkup kewengan HBTBB antara lain meliputi penguatan ekonomi masyarakat, revolusi hijau, kampanye dan penyadartahuan, penguatan kearifan tradisional, pendidikan lingkungan bermuatan lokal bagi sekolah, dan kampanye penyadartahuan tentang pentingnya pemanfataan hutan Batang Toru secara lestari.
Deputi Koordinator OCSP Regional Sumattera, Pahrian SIregar, mengatakan BP HBTBB bersifat adaftif terhadap skenario perubahan status fungsi kawasan hutan Batang Toru ke depan, baik menjadi hutan lindung, taman hutan raya (Tahura) atau tetap dengan status kawasannya selama ini. Saat ini, fungsi hutan di kawasan HBTBB beragam status, antara lain cagar alam (CA), hutan produksi terbatas (HPT), hutan produksi (HP), dan area penggunaan lain (APL) atau kawasan budidaya bukan hutan.
Apapun status fungsi kawasan hutan Batang Toru yang ditetapkan pemerintah ke depan, katanya, tidak akan berpengaruh terhadap eksistensi Badan Pengelola HBTBB. Artinya, jika kelak pemerintah menetapkan status fungsi hutan Batang Toru menjadi hutan lindung atau Tahura HBTBB dan membentuk unit pelaksana teknisnya (UPT), toh UPT ini tetap merupakan bagian dari keanggotaan BP HBTBB.
“BP HBTBB tidak mengambil alih tugas UPT. Sebaliknya akan mendorong dan membantu tugas-tugas UPT, sehingga bisa lebih efektif dan optimal,” tegas Pahrian Siregar.
Lingkup kewenangan UPT yang akan dikoordinasikan dan didukung oleh BP HBTBB antara lain pengelolaan zonasi kawasan hutan dan kawasan konses/pemanfaatan, manajemen penelitian, peningkatan kapasitas SDM Amdal, patroli pengamanan hutan, mediasi konflik dengan satwa, penanggulangan kebakaran hutan, jalur hijau/sekat bakar, penyuluhan, dan pengelolaan pusat informasi.
Seperti ketahui, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara juga telah menetapkan kawasan HBTBB sebagai salah satu daerah prioritas dalam pelestarian keragaman hayati di Indonesia, terutama Orangutan Sumatera (Pongo abelii) dan Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae).
Selama ini banyak pihak berkepentingan terhadap eksistensi HBTBB, terutama masyarakat dan dan sektor swasta. Bagi masyarakat di sekitarnya, HBTBB merupakan kawasan penting. Kurang lebih 344.520 jiwa atau 81.870 Kepala Keluarga yang menerima manfaat dari eksistensi kawasan Batang Toru. Sementara tidak sedikit pula perusahaan yang memanfaatkan sumber daya alam HBTBB, antara lain PLTA Sipansihaporas di Tapanuli Tengah yang memiliki kapasitas 50 megawatt (MW); Konsosium Medco, Itochu, dan Ormat yang sedang melakukan eksplorasi panas bumi di Sarulla, Kabupaten Tananuli Utara dengan potensi energi listrik 335 MW; dan PT Agincourt Resources Australia yang tahun depan akan mengekploitasi tambang emas di Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan. Jika tidak dikelola dengan manajemen yang baik dan terpadu, dikhawatirkan akan muncul konflik kepentingan dan ancaman yang lebih besar terhadap sumber daya alam dan keragaman hayati di kawasan hutan ini. ##


NB: Untuk informasi lebih lengkap, dapat menghubungi kontak person di bawah ini:
Erwinsyah
Communication Specilaist Coordinator
OCSP Regional Sumatera
HP: 081263610034
Email: erwinsyah@dai.com

Orangutan Conservation Services Program
Jl. Slamet Riyadi No. 6 Medan 20152, North Sumatra - Indonesia
Tel. 62 61-4531007 Fax: 62 61- 4512884



Sabtu, 12 September 2009

Ibukota Tapsel Idealnya Batang Toru


Ribut-ribut mengenai kota yang ideal menjadi ibukota Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumut, ternyata muncul pendapat yang berkelayakan untuk dipertimbangkan. Nyonya M. Hutasuhut yang lahir di Padang Sidimpuan lebih dari 40 tahun yang lalu mengatakan, ibukota Tapsel idealnya Batang Toru.

Berdasarkan ketetapan pemerintah pusat, kota kecamatan di Sipirok ditetapkan menjadi ibukota Tapsel sehubungan dengan pemekaran Tapsel menjadi beberapa kabupaten dan Padang Sidimpuan menjadi pemko yang berdiri sendiri. Akan tetapi Bupati Tapsel, Ongku P. Hasibuan masih tetap ngotot berkantor di Padang Sidimpuan dan berkesan seperti tidak mau pindah dengan berbagai alasan.



Kabupaten Tapsel yang luasnya seperempat wilayah Provinsi Sumut, dimekarkan menjadi beberapa kabupaten dan kota. Sekitar 10 tahun yang lalu dibentuklah Kabupaten Mandailing Natal (Madina) dengan ibukota Panyabungan, yang merupakan pemekaran pertama Tapsel.

Pada tahun 2008 yang lalu kabupaten ini dimekarkan kembali dengan munculnya Kabupaten Padang Lawas (Palas) yang beribukota Sibuhuan dan Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta) dengan ibukota Gunung Tua. Kota Padang Sidimpuan naik peringkat dari kota administratif menjadi pemerintahan kota.

Perkembangan ini memaksa ibukota Tapsel harus pindah ke Sipirok. Walau pun surat teguran dari Gubernur Sumut sudah dilayangkan pada Bupati Tapsel, namun Ongku Hasibuan sepertinya tidak peduli. Ongku malah minta dukungan dana lebih dari Rp 100 milyar pada Gubsu untuk pembangunan perkantoran bupati dan lahan lebih dari 140 ha dari Dep Kehutanan untuk kompleks perkantoran.

Menurut nyonya Hutasuhut, jarak Padang Sidimpuan dengan Batang Toru sekitar 30 km, demikian juga jarak Sipirok dengan Padang Sidimpuan 30 km. Jika ibukota dipindahkan ke Sipirok, ada kawasan di Tapsel yang sangat kepayahan untuk mencapai ibukota, karena terasa demikian jauh. Untuk itu idealnya ibukota Tapsel ditetapkan di Batang Toru, jalan dari arah Padang Sidimpuan ke Sibolga.

Namun nyonya Hutasuhut mengakui, ia tidak berani mengkampanyekan perubahan ibukota ini, karena kelak orang-orang Sipirok akan murka. Masalahnya, orang-orang Sipirok sangat berharap agar ibukota kabupaten segera dipindahkan ke tempat mereka. Sebaliknya Ongku Hasibuan yang juga orang Sipirok malah ngotot untuk bertahan di Padang Sidimpuan.

sumber : antarasumut.com

Jumat, 21 Agustus 2009

Lima Tahun Berdiri, SMK N 1 Batang Toru Belum Punya Gedung

Batang Toru,

Sudah lima tahun berdiri, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Pertanian N 1 Batang Toru belum juga memiliki gedung sendiri. Selama lima tahun tersebut SMK Pertanian N 1 Batang Toru menumpang di gedung SMP N 2 Batang Toru.

Kerinduan sekolah tersebut ingin memiliki gedung sendiri disampaikan ke Anggota DPD RI Asal Sumut Parlindungan Purba. Dalam kunjungan kerjanya ke Tapanuli Selatan beberapa waktu lalu, Parlindungan Purba menyempatkan diri untuk mendengar laporan dan aspirasi orangtua, siswa, guru, komite sekolah dan tokoh masyarakat.





Parlindungan Purba diterima oleh Ketua Komite SMK N 1 Djihat Siregar, Kepala Sekolah SMK N 1 Marnaek Siregar SPd, tokoh masyarakat OK Hazmi Isman, Koordinator Masyarakat Peduli Pembangunan (FMPP) Andika SS, kepala desa Aek Pining serta guru-guru SMK N 1 Batang Toru.

Pada kesempatan tersebut, Kepala Sekolah SMK N 1 Batang Toru Marnaek Siregar sangat mengharapkan kesediaan Anggota DPD RI Asal Sumut untuk memediasi pihak sekolah dengan pemerintah dalam mewujudkan pembangunan gedung SMK N 1 Batang Toru.

“Selama ini kita masih menumpang di gedung sekolah SMP N 2 Batang Toru. Proses belajar mengajar tetap terasa tidak nyaman kalau masih menumpang di gedung orang lain,” paparnya. Sama halnya dengan komite sekolah dan tokoh masyarakat.Harapan mereka, pemerintah segera mencarikan lokasi lahan baru untuk pembangunan gedung sekolah SMK N 1 Batang Toru.

Berdasar pada survei yang dilakukan masyarakat, beberapa lahan yang cocok untuk digunakan sebagai lahan pembangunan gedung sekolah berada di lahan perkebunan milik BUMN. Untuk melepaskan lahan milik BUMN perlu proses yang panjang.

Menanggapi permohonan masyarakat Batang Toru tersebut, dengan tegas Parlindungan menyampaikan akan berupaya untuk memediasinya sampai ke pusat. “Yang terpenting adalah ada kesungguhan dari masyarakat untuk memiliki fasilitas pendidikan yang lebih memadai demi untuk pengembangan SDM di Batang Toru,” paparnya. Selain dari itu, tambahnya masyarakat, siswa, guru dan komite sekolah harus bersabar dan mengikuti prosedur yang telah disepakati. “Saya percaya, dengan doa dan dukungan dari semua pihak kerinduan untuk memiliki gedung sekolah baru akan terwujud,” katanya. (jam)

(Analisa)

Oktober, Tambang Emas Batang Toru Beroperasi

Perusahaan China Akuisisi Saham PT Agincourt Resources
TAPSEL-METRO; Bulan Oktober mendatang, aktivitas tambang emas di Desa Batang Toru Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan dipastikan beroperasi setelah perusahaan baru asal China bernama Sci-Tech Holdings (CST) Limited mengakuisisi saham PT Agincourt Resorces Australia yang bangkrut akibat terimbas krisis global.

Sebelum menyatakan bangkrut, PT Agincourt Resources Australia menargetkan proyek tambang emas di Batangtoru sudah mulai berproduksi akhir 2009 atau paling lambat awal tahun 2010. Bahkan, kata Chief Executive Officer OZ Mineral PT Agincourt Resources Australia, Andrew Michiermore bulan Agustus lalu, proyek itu masih dalam tahap konstruksi.





Andrew Michiermore yang ketika itu berdialog dengan Gubernur Sumut Syamsul Arifin mengatakan, produksi emas di tambang Batangtoru itu diperkirakan sebanyak 6,3 juta ton per tahun ditambah perak sekitar 60,7 ton per tahun dengan masa produksi hingga 10 tahun. Produksi emas dan perak di Batangtoru masih bisa diperpanjang lima hingga 10 tahun lagi dengan melakukan eksplorasi tambahan.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Tapanuli Selatan, Ir Baduaman Siregar melalui sekretaris, Helmi, mengatakan secara resmi Sci-Tech Holdings (CST) Limited menggantikan pengambilan hak dan pembelian saham pada 30 April lalu, setelah menyelesaikan seluruh administrasi dalam eksplorasi tambang emas Batang Toru.

"Pemegang saham dan penanggung jawab proyek penambangan emas adalah CST dengan memberikan tanggung jawab manajemen pengelolaan proyek martabe penambangan emas Batang Toru kepada anak perusahaan G Resorces, Sister Company yang dipimpin oleh Owen Hegarty dan Peter Albert yang menjabat sebagai senior eksekutif G Resources. Maka di bawah naungan manajemen anak perusahaan inilah pengelola proyek penambangan," ujar Helmi, Selasa (28/7) kemarin.

Ditambahkan Helmi, sebenarnya perusahaan CST hanya membeli saham perusahaan sebagai penanggung jawab proyek pertambangan, sedangkan pelaksana manajemen penambangan adalah anak perusahaan G Resources yang merupakan perusahaan yang bergerak di bidang penambangan di bawah naungan perusahaan besar asal Amerika yakni Oxiana Zenifed (OZ).

"Jadi ke depan pada bulan Oktober mendatang perusahaan baru ini akan memulai aktivitas penambangan setelah selama ini tidak aktif karena perusahaan sebelumnya mengalami krisis, karena tidak memiliki dana dalam memasuki tahap kontruksi pembangunan proyek. Jadi perusahaan baru ini bukan lagi dalam pengerjaan proyek eksplorasi tapi sudah memasuki tahap kontruksi," pungkasnya.

Untuk diketahui, sebelum akhirnya bangkrut, PT Agincourt Resources berencana melakukan eksplorasi emas di kawasan Batang Toru sebanyak 6,3 ton per tahun selama 10 tahun. Proses eksplorasi akan dimulai pada awal 2010. Perusahaan ini juga akan menambang perak sebanyak 60,7 ton per tahun selama 10 tahun. Bahkan, di luar lokasi juga akan terus dilakukan eksplorasi untuk mencari sumber tambang emas dan perak.

Seperti yang dikatakan Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Sumatera Utara Washington Tambunan selepas mengikuti pertemuan antara tim PT Agincourt dan Gubernur Sumatera Utara Syamsul Arifin bulan Agustus lalu, PT Agincourt Resources berencana melakukan konstruksi eksplorasi akhir 2009, sementara produksi pada awal 2010.

Soal bagi hasil, Washington mengatakan tidak ada istilah bagi hasil dalam proses eksplorasi, tetapi menggunakan royalti sesuai dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967. Pemerintah diperkirakan akan menerima bagian sekitar 2 persen dari hasil tambang yang diproduksi perusahaan.

Dari angka 2 persen itu, 20 persen merupakan bagian pemerintah pusat, 64 persen bagian pemerintah kabupaten, dan 16 persen merupakan bagian pemerintah provinsi. Pemerintah daerah juga akan mendapatkan kepemilikan saham sebesar 5 persen. Sebanyak 3,5 persen diperuntukkan bagi Kabupaten Tapanuli Selatan, sisanya 1,5 persen untuk Provinsi Sumatera Utara. Selain itu, PT Aneka Tambang juga akan menguasai 10 persen saham dengan nilai 65 juta dollar AS.

Meski demikian, 5 persen saham yang dimiliki pemerintah daerah Sumut dan Tapanuli Selatan bernilai sekitar 10 juta dollar AS. "Kami tidak membayar sampai 30 juta dollar AS, dari mana kami punya uang. Angka 5 persen itu dibayarkan dari dividen yang kami (pemerintah daerah) peroleh," kata Washington. Dan ini, kata Washington, membuat pemerintah daerah tidak menanggung kerugian jika perusahaan merugi.

Jumat, 14 Agustus 2009

Fupei Situs Jaringan Sosial Pertama Indonesia



FUPEI merupakan salah satu website karya anak bangsa yang baru saja selesai dari beta testing dalam mengimplementasikan dukungannya terhadap program terbuka berskala dunia yaitu OpenID, dengan menjadi sebuah OpenID Provider, FUPEIs (sebutan member FUPEI) dapat mengakses kedalam halaman member website-website yang menerima OpenID sebagai salah satu cara loginnya.

Bersama dengan website-website besar yang juga sebagai OpenID Provider seperti Yahoo, Google, Mixi dan lain-lainnya, FUPEI akan selalu berusaha mengikuti perkembangan internet dunia, dan mencoba untuk membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia tidak selalu menjadi konsumen terhadap website-website luar, Indonesia memiliki kemampuan untuk mengikuti perkembangan yang ada terutama dalam teknologi internetnya.







OpenID adalah layanan pengenal identitas, yang membolehkan FUPEIs untuk masuk kedalam banyak website dengan hanya menggunakan sebuah identitas digital, yang menyebabkan FUPEIs tidak perlu lagi mendaftarkan baru di website yang FUPEIs kunjungi. OpenID tidak terpusat hanya kepada satu website, gratis dalam pemakaiannya, dan memiliki standarisasi pengelolaan informasi yang sudah FUPEIs miliki.

Dengan menggunakan FUPEIs tidak perlu mengingat ID dan password di sebuah website. Melainkan cukup dengan menggunakan identifikasi milik FUPEI dan passwordnya di FUPEI.

Sebuah website yang dipercaya menggunakan OpenID, akan menggunakan form masuk milik OpenID. Berbeda dengan website kebanyakan yang biasanya memiliki form masuk dengnan pertanyaan ID dan password, apabila menggunakan form OpenID, akan terlihat sebuah pertanyaan saja, yaitu form identifikasi OpenID, biasanya juga disertakan dengan logo kecil dari OpenID. Form ini yang akan terhubung kepada pusat data di FUPEI untuk melakukan pengesahan.

FUPEIs hanya membutuhkan sebuah kode identifikasi OpenID. Pada saat FUPEIs mengunjungi website yang menggunakan OpenID, FUPEIs cukup memasukkan kode identifikasi tersebut. Dan silahkan lihat keajaiban dari OpenID bekerja.

FUPEI-Friends Uniting Program Especially Indonesia- adalah sebuah website komunitas yang berisi tentang jurnal persahabatan dan kreatifitas di internet, dikhususkan untuk kalangan Indonesia, FUPEI terus berusaha untuk mengembangkan fasilitasnya agar tidak kalah dengan fasilitas website-website yang sejenis diluar, memiliki anggota sebanyak 80.000 lebih orang dengan 96,3 persen adalah pengguna yang berasal dari Indonesia.

Fupei diharapkan dapat menjadi portal anak muda terbesar di Indonesia dengan menyediakan berbagai macam fasilitas-fasilitas yang berguna untuk kepentingan membernya. Dan mengenalkan ke dunia Internasional bahwa anak muda Indonesia kreatif dan bersahabat.

Untuk terus menonjolkan Fupei sebagai situs lokal, Fupei akan dilengkapi dengan bahasa pengantar lain. Selain bahasa Indonesia dan Inggris, Fupei juga akan dilengkapi dengan bahasa daerah. Hingga saat ini sudah ada lima bahasa daerah seperti Jawa, Sunda, Padang, Lampung dan Betawi. Sedangkan beberapa bahasa lainnya seperti Bugis, Papua, Palembang dan Manado masih dalam proses pengerjaan.

Fasilitas unggulan Fupei adalah kostumisasi profil Fupeis, games, blog, forum dan chatroom. Fupeis juga dapat menikmati photo album, musik, video dan ecard dengan teknologi yang tidak kalah dengan flickr, MySpace, YouTube dan Friendster

http://tutor-internet.com/

Jumat, 10 Juli 2009

Perjalanan Ikan Jurung Keramat, Danau Siais Dan Aek Batangtoru

Home

Kamis, 15 Januari 2009 | 09:38:44

Menyusuri Pedalaman Tapsel

Ikan Jurung Keramat, Danau Siais, dan Aek Batang Toru
Sebuah keajaiban bertahan selama hampir satu abad di desa Rianiate, Kecamatan Padangsidimpuan Barat, Tapanuli Selatan. Ribuan ikan jurung berukuran sampai 50 cm dengan berat mencapai 2 kg lebih, hidup liar dalam sebuah sungai kecil dan dangkal yang mengalir di belakang rumah penduduk. Bila kemarau tiba dan debit sungai mengecil, hanya 1/3 dari tubuh ikan-ikan itu yang benam dalam air. Gampang sekali menangkapnya. Tapi penduduk tidak memakan atau mengganggunya. Sebuah kepercayaan keramat telah menyelamatkan mereka dari kepunahan.






Kebelet menyaksikan pemandangan ajaib ini? Tidak gampang! Desa Rianiate adalah desa pedalaman yang terisolir dari darat dan merupakan pemukiman terakhir ke arah pesisir timur Kabupaten Tapsel. Jalan daratnya melewati beberapa puncak perbukitan dengan bebatuan yang sudah dibungkus lumpur. Saat ini, praktis tidak ada mobil yang berani masuk. Bahkan kendaraan roda dua pun sangat jarang melintas, sehingga rerumputan mulai tumbuh di bekas lindasan roda.

Dari Padangsidimpuan, ibu kota Tapsel, simpang menuju desa Rianiate dicapai dengan melewati jalur beraspal Padangsidimpuan-Sibolga selama satu jam perjalanan. Sebelum mencapai jembatan Batang Toru, terdapat tempat wisata pemandian Aek Parsariran. Kita bisa beristirahat atau mandi-mandi di sini, karena Parsariran memang sudah dikelola sebagai lokasi wisata dan pemerintah sudah membangun fasilitas-fasilitas seperti pondok-pondok, ruang ganti, mushalla, dan toko-toko jualan.

Dari Parsariran, simpang Rianiate hanya berjarak sekitar 3 km, persis sebelum jembatan Aek Batang Toru. Kita harus berbelok ke kiri dan melanjutkan perjalanan melewati desa Hapesong dan perkebunan milik swasta. Sampai beberapa kilometer ke dalam, kondisi jalan masih bagus. Setelah itu, jalan sudah berbatu dan berlobang, meski masih dilewati satu dua angkutan pedesaan.

Segalanya menjadi suram dan sulit begitu sampai di desa Simataniari. Dari sini, perjalanan mulai mendaki dengan batu-batunya yang tajam dan besar. Satu gugusan pegunungan lagi harus dilalui dengan perjalanan sulit yang memakan waktu sekitar tiga jam. Penduduk sekitar melewatinya dengan berjalan kaki, termasuk anak-anak SD dari desa Bahung yang berlokasi di sebuah lembah di balik gunung tersebut.

“Cuma di sana SD paling dekat. Aku sama kawan-kawan sudah biasa melewati gunung, tapi karena jalannya curam dan berlumpur, kami nggak bisa pakai sepatu,” kata Dalian, seorang siswa SD kelas 6. Desa Bahung hanyalah pemukiman yang berisi belasan rumah dan satu gereja kecil. Sekitar 30-an anak SD tetap bersekolah meski harus melewati hutan dan gunung tiap hari.

Dari Bahung ke desa Rianiate, badan jalan makin menyempit dengan beberapa jembatan kayu yang sudah bobrok. Perkampungan terakhir di pinggiran Danau Siais itu menampilkan suasana masa lalu. Sebagian besar rumah penduduk terbuat dari papan yang sudah berusia tua dan berbentuk panggung. Satu-satunya bangunan mewah di sana adalah mesjid yang berdiri di pinggir sungai Rianiate yang konon pembiayaannya dibantu oleh mantan Gubernur Sumatera Utara Raja Inal Siregar.

Mesjid ini punya sejarah yang cukup panjang, karena desa Rianiate juga termasuk perkampungan tua. Saat ini jumlah penduduknya sekitar 270 rumah tangga. Pada awalnya bangunan mesjid itu hanyalah sebuah tempat peribadatan sederhana. Alkisah, pada tahun 1939, seorang syekh pengikut tarekat naqsabandiyah datang dari Desa Tabuyung, pesisir barat. Ia mendirikan persulukan persis di pinggiran sungai Rianiate.

Suatu masa, sang syekh menghadapi masalah dengan air sungai yang dipakainya sebagai tempat wuduk. Ia merasa air sungai makin kotor oleh aktivitas penduduk di bagian hulu, sehingga syarat untuk sebuah tempat wuduk yang bersih tidak terpenuhi lagi. Setelah berikhtiar dan berdoa pada Tuhan, beliau akhirnya mendapat pemecahan yang konon datang dari sebuah mimpi.

Entah ia dapatkan dari mana, suatu hari ia membawa seekor ikan jurung besar (penduduk setempat menyebutnya ikan merah). Ikan itu ia lepas di sungai belakang mesjid dengan tujuan menjadi penyaring kotoran dari hulu. Ini sebenarnya bisa dijelaskan lewat ilmu biologi, yakni membasmi sesuatu dengan memanfaatkan sifat rantai makanan makhluk hidup. Ikan jurung tersebut memakan kotoran-kotoran dari hulu dan seterusnya berkembang biak menjadi ribuan ekor.

Untuk kelestariannya, syekh dan pengikutnya melarang penduduk mengambil dan memakan ikan-ikan itu. Sebuah kepercayaan kemudian berkembang. Sampai hari ini penduduk sangat meyakini bahwa ikan jurung itu bukanlah ikan biasa. Mereka “dilindungi” oleh sang syekh dan tidak ada seorang pun yang selamat bila berani memakan atau mengambilnya.

Menurut Henry Dalimunthe, seorang penduduk yang tinggal di tepi sungai, sudah banyak kejadian yang membuktikan keyakinan mereka itu. Suatu hari dua orang pendatang dari Padangsidimpuan menangkap dan membakar ikan untuk “teman” (tambul) minum tuak. Keduanya lantas meninggal dalam keadaan mabuk. Kemudian seorang anak muda tiba-tiba buta matanya dalam tugasnya sebagai operator alat berat untuk pelebaran sungai. Diduga, ia telah mengganggu ketenteraman ikan karena membuat sungai keruh. Beberapa kasus lain adalah orang-orang yang perutnya gembung setelah nekad mengabaikan peringatan warga.

“Kami tidak pernah melarang siapapun menangkap atau memakan ikan merah. Tapi kami sudah memberi peringatan duluan. Tapi kalau tidak percaya juga, kami biarkan saja. Jadi, jangan salahkan kami kalau terjadi sesuatu kemudian,” ujar Henry serius.

Keanehan lain yang memperkuat mitos itu adalah tingkah laku ikan yang tidak pernah jauh-jauh dari sekitar mesjid. Mereka hanya mau berenang paling jauh dalam radius sekitar 20 meter ke hilir atau ke hulu. Dalam sungai yang dangkal tersebut, ikan-ikan jurung bergerombol dan bergabung dengan penduduk yang mandi atau mencuci.

Bayangkan, ribuan ekor jurung seberat 2 kiloan berkeliaran di sekeliling Anda dengan sebagian tubuhnya tak muat lagi dalam air. Ini adalah pemandangan langka dan mungkin satu-satunya di dunia!

Sebuah kearifan tradisional telah menjaga populasi jurung di Rianiate. Entah sampai kapan hubungan unik manusia dan ikan ini bertahan. Menurut penduduk setempat, belakangan, kasus kematian ikan merah makin sering terjadi. Bila kemarau terlalu panjang, ikan-ikan mati mengambang sampai ratusan ekor. Persentuhan warga dengan produk-produk modern seperti deterjen telah mempengaruhi kualitas air sungai. Diduga, pada saat kemarau, tingkat konsentrasi pencemaran sungai menjadi tinggi, dan akhirnya membunuh ikan.

Panorama Siais dan Aek Batang Toru

Selain keajaiban ikannya, desa Rianiate masih punya simpanan lain untuk dikunjungi. Menyusuri sungai Rianiate sejauh kira-kira 1 km lagi ke hilir, kita akan berakhir pada sebuah danau yang sangat indah: Danau Siais.

Puluhan sungai besar dan kecil dari gugusan pegunungan di sekelilingnya memberikan kontribusi air, termasuk Aek Batang Toru sebagai penyumbang terbesar. Danau Siais adalah danau terluas kedua yang dimiliki Sumatera Utara setelah Danau Toba. Tapi potensi wisata ini belum terjamah sama sekali. Sebaliknya, para mafia kayu sudah mencederai duluan hutan-hutan di sekelilingnya.

Sebagai danau alam, Siais menyimpan manfaat ekonomi yang besar bagi masyarakat di sekitarnya. Warga memenuhi lauk-pauk dengan cara menangkap ikan. Sebagai sarana transportasi penyeberangan, mereka membuat sampan. Tak heran bila warga Rianiate sendiri adalah orang-orang yang terampil membikin sampan.

Bahkan, hari ini, warga Rianiate telah membuat perahu yang lebih besar untuk alat transportasi sungai. Perahu dengan kapasitas 20 penumpang itu memiliki ukuran sepanjang 15 meter dengan lebar badan 1 meter. Sebagai penggeraknya, mereka memakai mesin kompeng berbahan bakar solar. Tak kurang dari 7 perahu kompeng melayani rute Rianiate—Batang Toru dan sebaliknya setiap hari.

Dari sungai Rianiate yang sempit, perahu motor pelan-pelan menghilir ke danau, lalu keluar melalui mulut sungai Batang Toru. Setelah meninggalkan panorama Siais yang indah dan tenang, perahu kompeng selanjutnya bergerak ke hulu menentang arus Batang Toru yang cukup deras. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke Batang Toru sekitar 3 jam dengan jarak tempuh kira-kira 60 km.

Selama penyusuran sungai ini, panorama juga cukup menyenangkan. Beberapa jenis satwa liar seperti elang, biawak, dan monyet menjadi daya tarik pemandangan di sepanjang pinggiran sungai. Sekali-sekali, rumah-rumah penduduk yang lebih tepat disebut gubuk dapat dilihat. Penghuninya adalah anak-anak kandung pedalaman yang hidup dengan sangat sederhana.
Sungai Batang Toru adalah salah satu sungai terbesar di Tapanuli Selatan. Ke hilir, arusnya berakhir ke laut di pesisir barat setelah lebih dulu membagi airnya sebagian ke Danau Siais. Sedangkan ke hulu, Batang Toru melintasi Tarutung, Tapanuli Utara. Di sana masyarakat mengenalnya dengan nama Aek Sarulla. Saking populernya, sungai ini sudah memberi inspirasi pada terciptanya sebuah lagu Batak yang juga cukup dikenal karena sering diajarkan pada anak-anak SD. Petikannya antara lain “Aek Sarulla, tu dia ho laho. Na ginjang ma nian jalan mi…”. (Sungai Sarulla, ke mana kau pergi. Panjang kali nian jalanmu…).

Selain karena besar dan panjangnya, belakangan Batang Toru alias Sarulla juga mulai disebut-sebut karena memiliki jeram yang sangat menantang antara Desa Sipetang sampai jembatan Trikora di Batang Toru. Kelompok pecinta alam Kompas USU yang dipimpin Robert AP Lubis pertama kali mengarunginya pada tahun 2002. Menurut salah seorang aktivis Kompas USU, Popoy, sungai Batang Toru memiliki satu jeram besar dengan grade 6. Belum ada yang berani melewatinya, karena risikonya sangat dekat dengan maut. Sebagai perbandingan, arung jeram Asahan yang berkapasitas internasional, hanya memiliki jeram tertinggi dengan grade 5+ dan juga belum ada kelompok yang berani mengarunginya.
sumber:insidesumatera.com

Jumat, 22 Mei 2009

LUPA POSTING



Sebenarnya kejadiannya uda setahunan dari tgl hari ini,Disimpan di komputer,lupa..kemarin waktu iseng-iseng lihat2 isi komputer ketemu lagi sama nih foto..Karena unik kayaknya blm basi buat di tampilin di blog ini..
Kejadian tepat di desa sangkunur kec:Angkola barat sekitar 10Km dari batangtoru,tapanuli selatan,Sumut..Jembatan rubuh karena kelebihan beban dan tak sanggup menahan tekanan dari truk tsb.Jembatan tsb mnerupakan jembatan darurat,Sebelum pembangunan rampung..

Korban Lagi
Pada waktu pemilu Legislatif beberapa bulan lalu jembatan ini juga memakan korban,tiga orang pengendara sepeda motor terjatuh sebelum melewati jembatan yang kondisi jalan menanjak dan berpasir.dua orang meninggal satu orang selamat..


Minggu, 10 Mei 2009

Tenaga Air dan Panas Bumi Hutan Batangtoru Mampu Produksi Listrik 350 MW


Posted in Marsipature Hutanabe by Redaksi on Maret 5th, 2009

Marancar (SIB)
Bupati Tapsel Ongku P Hasibuan diwakili Asisten II Untung Swandi mengatakan, kawasan hutan Batangtoru yang berada pada tiga wilayah adminsitratif Kabupaten yakni, Kabupaten Tapsel, Tapteng dan Taput ternyata mampu memproduksi pembangkit listrik tenaga air dan panas bumi sebesar 350 Mega Watt (MW), karenanya kelestarian kawasan hutan Batangtoru yang sebagian besar berada di Kabupaten Tapsel harus tetap dijaga.
Demikian amanat tertulis Bupati Tapsel yang dibacakan Asisten II Untung Swandi pada Musyawarah Besar Menjaga Hutan dan Air di Daerah Aliran Sungai Batangtoru yang diselenggarakan Conservation International (CI) Indonesia di Desa Tanjung Rompa Kecamatan Marancar Tapsel, Senin (2/3).


Disebutkan, khusus di Kabupaten Tapsel salah satu kawasan hutan yang masih menjanjikan adalah kawasan hutan Batangtoru, karena memiliki sumber air yang menjadi gantungan hidup sekitar 1,3 juta orang di wilayah sekitarnya. “Selain untuk dikonsumsi, airnya juga dipergunakan untuk mengairi dan menyuburkan lahan pertanian dan persawahan, bahkan menjaga iklim sekitarnya,” ujar Ongku.
Manfaat lainnya, kata Ongku, Sungai Sipanhaporas dari blok Barat hutan Batangtoru telah dijadikan sebagai PLTA berkekuatan 50 MW, dari blok Timur di Sarulla mampu menghasilkan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi 300 MW. “Pada dasarnya, masyarakat di kawasan hutan Batangtoru ini sudah menjaga kelestarian hutan dengan tidak membuka kawasan hutan atau penebangan kayu secara illegal untuk perkebunan dan bisnis kayu,” sebutnya.
Ongku menilai, masih perlu dilakukan upaya-upaya pelestarian yang komprehensif, koloboratif dan terukur dalam perencanaannya sebagaimana yang akan dilakukan pihak Conservation International (CI) Indonesia bersama pemerintah daerah. Jadi musyawarah digelar agar dapat merangkul pendapat-pendapat dari berbagai pihak untuk mencapai kesepakatan baru dalam melindungi hutan alam yang masih tersisa, sebab perencanaan konservasi secara partisipatif menjadi hal yang sangat penting.
Karena jika hutan dirusak masyarakat sekitar hutan Batangtoru merupakan orang-orang pertama yang akan menjadi korban, karena kerusakan hutan akan mengakibatkan terjadinya bencana alam seperti, banjir dan tanah longsor. Namun sebaliknya, jika hutan Batangtoru terpelihara dengan baik, tentunya masyarakat sekitar menjadi orang yang pertama merasakan manfaatnya, sebab dengan kondisi hutan yang terjaga tentu ketersediaan air akan tetap terjaga dan lingkungan tetap asri. “Menjaga dan melestarikan hutan khususnya kawasan hutan Batangtoru sudah harga mati, karenanya sangat diharapkan peran serta seluruh masyarakat dan unsur Muspida dalam upaya melestarikannya,”


video

sebut Ongku seraya mengajak menjaga bersama hutan lindung yang menjadi populasi Orang Utan Sumatera beserta flora dan fauna langka di dunia demi kepentingan anak cucu ke depan.
Hadir dalam acara itu Presiden Direktur CI Indonesia Jatna Supriatna, Herwaksono Soedjito, Saodah Lubis, Kepala BKSDA Sumut Djati Wicaksono, Kadis Kehutanan dan Pertanahan Akhmad Ibrahim, Ketua Bappeda Saulian Sabbih, Kakan Pedalda Samsul Bahri, Camat Marancar dan undangan lainnya.(T7/g)

 

Followers

VISITOR

Gokkon tu dongan

SocialTwist Tell-a-Friend
BATANGTORU HARI INI Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template